Selasa, 07 April 2009

Brand itu Seperti Donat

Menyampaikan sebuah konsep dengan bahasa lebih sederhana ternyata jauh lebih sulit dibandingkan menyampaikan dengan bahasa yang panjang dan lebar. Apalagi jika lawan bicara adalah orang awam. Alkisah mahasiswa di kelas saya bertanya di akhir sesi perkuliahan, “ Pak apa sich sebenarnya esensi dari konsep brand yang disampaikan selama dua jam ini?”
Waduh, seketika saya kaget harus jawab apa? Dua jam saya nerangin konsep brand dari mulai perbedaan brand vs produk. Bahwa brand itu dibangun di otak pelanggan sedangkan produk dibangun di pabrik, sampai konsep brand equitynya David Aaker bahwa ekuitas (nilai) sebuah brand dibentuk oleh lima elemen yakni pupularitas (awareness), persepsi akan kualitasnya, asosiasi brand apakah positif ataukah negatif, daya saingnya, dan aset lain. Lima elemen itupun sudah saya detailkan satu per satu bahkan saya lengkapi dengan contoh kasus. Masak dia nggak paham, sedang teman-teman lainnya mengerti?
Jadi, saya duga dia tidak mungkin nggak paham. Saya simpulkan pertanyaan justru pertanyaan ujian buat saya dari seorang yang tahu tentang brand dan branding.
Kira-kira tiga kedipan mata, langsung saya teringat pada donut yang dibawakan istri tercinta untuk sarapan saya. Bentuknya bulat tengahnya kosong, dan ada berbagai macam taburan coklat di atas permukaannya. Seketika saya sadar bahwa itulah brand..Ya, Brand itu seperti tengahnya donat, KOSONG!. Sedangkan taburan coklat yang ada di atas permukaan itulah BRANDING—segala macam aktivitas yang membuat brand mempunyai identitas, karakter, dan hidup di hati pelanggan.
Brand pada level 1 hanyalah sebagai identitas (level 2 adalah brand bagian dari citra individu dan budaya masyarakat). Makanya brand di level 1 identik dengan logo.”Brand ya logo, logo ya brand, gitu aja kok repot, “ kata teman bisnis saya. Pada level 1 memang brand hanyalah berfungsi tidak ubahnya seperti merek dagang lengkap dengan logo dan identitas visualnya. Inilah yang saya sebut BRAND ITU KOSONG, kayak tengahnya donat!
Percuma anda punya logo yang bagus dan trendy tapi tidak dihidupkan! Apalagi jika brand Anda secara visual sangat kece tapi kualitas isi dan hantaran servisnya payah! Itu bagaikan ORANG JELEK PAKE BAJU BAGUS—Sementara orang lihat dari jauh keren, tapi begitu dekat kecewa, “ Ach ternyata orangnya jelek, bajunya doank yang bagus.” Tapi bukan berarti pakai baju bagus salah? Brand bagus adalah awal yang baik untuk menuju sukses. Lebih baik khan orang jelek pake baju bagus daripada orang jelek tapi tetap saja nekad pake baju jelek? Hasilnya JELEK KUADRAT!
Brand itu bajunya, sedangkan hasil dari aktivitas Branding itu karakter orangnya yang cakep. Brand itu tengah donat yang kosong (gak ada apa-apanya), sedangkan Branding akan menghasilkan taburan coklat warna warna yang memukau mata, dan kalau “di makan” rasanya mantap bukan main sampai kita nambah ingin makan lagi.
Seketika mahasiswa saya menggangguk tanda puas, nggak berani tanya lagi!

Kesadaran Brand &Branding Itu Level 2 Bisnis Franchise.
Ada seorang pembicara bertanya retorik kepada peserta seminar,” Apa kunci sukses bisnis franchise?” Ia pun menjawab sendiri, “ Ada dua yakni hubungan dan sistem.” Sebenarnya di lubuk hati saya menunggu-nunggu jawaban ketiga. Apa itu? BRAND.
Coba pikirkan, “ Apa yang dibeli orang dari bisnis franchise mahal-mahal?” Jawabnya adalah ekuitas-nilai brand (brand equity) . Hubungan dan sistem hanyalah pembentuk ekuitas brand. Dua-duanya adalah variabel independen yang saling bersinergi dengan variabel independen lain sehingga meningkatkan atau menurunkan ekuitas brand.
Mengapa Anda membeli franchise Mc Donald? Karena ekuitas brand Mc Donald itu seharga US$ 31 milyar (data Best Global Brands, Interbrand 2008). Franchisor apa saja pasti menawarkan harga hak franchise di atas biaya investasi riel. Misalnya, kalau hanya dinilai dari sistem, prosedur, network, atau infrastruktur yang diberikan, barangkali Anda tidak layak membayar ratusan juga untuk membeli hak franchise sebuah bengkel motor atau salon mobil. Menjadi layak lantaran Anda melihat brandnya populer, asosiasinya selalu bagus, dikenal berkualitas, berdaya saing, dan lain sebagainya.

Menjadi layak karena Anda tidak perlu melakukan jerih payah seperti dilakukan sang franchisor dari awal lahir sampai sukses. Jadi, layaklah kalau brand is priceless-Saking mahalnya brand itu bahkan takternilai. Mahalnya karena proses membangun brand tidak bisa diduplikasi seperti Anda membuat produk. Strategi branding yang sama tidak akan menghasilkan dampak yang sama ketika lingkungan bisnis berubah.
Brand juga harus terus dijaga dengan akivitas branding yang konsisten. Saya amati dalam beberapa kasus pada saat awal mewaralabakan, franchisor getol beriklan, melakukan kegiatan publisitas, sehingga menjadi terkenal dan menyedot perhatian masyarakat. Produknya pun sangat dijaga dari penurunan kualitas. Namun, begitu sukses mendapat banyak franchisee, upaya branding ini tidak dilanjutkan lagi sehingga dua-tiga tahun kemudian, brandnya tenggelam digilas pendatang baru. Oleh karena itu, bagi teman-teman pembaca yang ingin membeli hak franchise selain sistem, network, support, juga perlu dilihat apakah franchisor punya visi dan rencanya detail tentang brandnya. Punya nggak dia rencana aktivitas branding yang konsisten dari tahun ke tahun? Tanyakan tahun pertama sebagai franchisor akan melakukan apa? Tahun kedua akan melakukan apa, dan seterusnya. Kemana brand akan diposisikan, apa keunikannya sekarang, apa keunikan selanjutnya yang ingin dibangun? Berapa budget iklannya setahun? Dan lain sebagainya. Kalau ada berarti patut untuk dipilih.
Ingat bahwa membeli hak franchise adalah membeli kesuksesan di masa datang, bukan kesuksesan hari ini. Karena bisa jadi hari ini si franchisor sukses, tapi kalau tidak ada visi yang jelas dan detail bisa jadi kesuksesan hari ini tidak akan langgeng menjadi kesuksesan yang akan dirasakan franchisee.
Akhir kata saya ingin bilang, “ Tolong jangan kalau beli franchise jangan beli pabriknya, tapi belilah pelanggannya.” Produk di pabrik sedang brand di benak pelanggan. Kalau di benak pelanggan nilai brand tidak dijaga, pabrik bisa tutup saat itu juga. Tapi kalau pabriknya tutup, sepanjang pelanggan masih suka, kita bisa cari pabrik lain yang bisa membuat produk lebih bagus dan lebih murah. Setuju nggak?

Minggu, 18 Januari 2009

BATIN BERLOGIKA, PIKIRAN MERASA

“Batin Berlogika, Pikiran Merasa”
Dalam acara ultah Info Franchise yang ke-3 kemarin, saya diminta mbak Dona Oriza naik ke podium, menjawab satu pertanyaan:” Apa kesan Bapak mengenai Info Franchise?” Jawaban paling gampang adalah majalahnya bagus, isinya ok, iklannya memuaskan, dan lain sebagainya.
Namun bagi saya pertanyaan itu sangatlah serius. Dengan kata lain Dona sebenarnya bertanya: “ Bagaimana brand Info Franchise setelah tiga tahun berdiri.” Jawaban saya adalah Info Franchise lahir dengan diferensiasi yang solid dan fokus hanya bicara tentang franchising dan kebetulan market franchising sedang tumbuh sehingga Info Franchise pasti berprospek cerah. “Lagi-lagi diferensiasi,” mungkin ada audience yang berguman demikian. Namun faktanya memang diferensiasi adalah roh kesuksesan produk apapun. Gampang dan enak dibicarakan namun susah mendapatkannya.

Diferensiasi dalam dua kubu dibagi dua yakni kandungan produk (content), kemasan produk (context). Kemasan disini bukan saja berarti kemasan harfiah (baca: bungkus) namun juga kemasan emosional yang dibentuk oleh proses branding yang baik. Saya ada di area kedua ini.
Karena saya percaya, fitur produk hanyalah pemuas kebutuhan, sementara penampilan (context) adalah penghilang kekuatiran pelanggan.

Kualitas berita di Info Franchise hanyalah pemuas kebutuhan orang yang cari info tentang apa yang sedang terjadi di dunia franchising. Tapi tampilan cover, layout dan gaya bahasa adalah kemasan yang menciptakan dorongan emosional untuk membeli. Kalau majalahnya disegel, praktis hanya cover story yang mendorong pembelian. BATIN BERLOGIKA: “Rasanya dengan tampilan, dan judul cover tersebut, pasti isinya menarik.” Lalu diikuti dengan respon: “Jadi saya harus membeli,”kata OTAK YANG MERASA. Mengapa? Karena tidak ada fakta yang bisa dicek pelanggan wong sampulnya disegel—nggak boleh dibuka sebelum dibeli).

Batin (sisi emosional) Anda berlogika dulu, kemudian baru pikiran akhirnya menyimpulkan secara logis isinya pasti bagus. Visualisasi mendorong menculnya persepsi sesaat sebelum indera meng-approve tentang tingkat kebenarannya. “Perception is reality”. Oleh karenanya, sudah saatnya para franchisor lebih memperhatikan identity-visualnya baik di tingkat produk maupun korporat (logo, poster, flyer, stationary, website, company profile) yang mendorong terciptanya citra positif di mata calon franchisee, khususnya menjelang event Franchise & Business Concept Expo 2009 yang akan berlangsung Maret 2009 mendatang.

Identity is Destiny
Apa brand yang identitasnya termasuk paling jelas dan dikenal sepanjang masa? Saya menjawab, BAJAK LAUT. Anda bisa lihat di film apapun, dalam cerita versi apapun, bendera bajak laut pasti berwarna hitam, dengan lambang tengkorak-golok menyilang berwarna putih. Identitas individualnya juga jelas dan konsisten yakni bertato, gembel, ikat kepala atau topi, tangan buntung atau mata buta sebelah dengan pembawaan yang urakan khas penjahat kelas teri. Dengan modal identitas yang konsisten itu, kemanapun mereka pergi, aura ketakutan selalu menyeruak di hati para awak kapal dagang ketika melihat sebuah kapal berbedera hitam dan berlambang tengkorak-golok menyilang warna putih, meski belum terlihat jati diri awak kapal yang sebenarnya. 1000% ketika orang visualisasi lambang bajak laut, 1000% persepsinya sama (Pasti Bajak Laut) dan reaksinya sama, TAKUT sekaligus MENGHORMATI. Artinya “brand visual” bajak laut telah memotong alur berpikir dan bertindak runtut khas otak mamalia, namun langsung ke otak reptil yang mengambil reaksi spontan.

Pemilihan visualisasi brand yang baik sehingga menciptakan identitas yang relevan dengan diferensiasi dan kinerja produk-korporasi akan menciptakan efek bola salju serupa. Pengalaman saya ketika ikut tim konsultan rebranding BNI beberapa tahun yang lalu, setelah beberapa bulan mengganti logo dan menggerakkan aktivitas komunikasi, persepsi positif BNI menjadi lebih tinggi khususnya dari dampak penambahan warna orange yang berkesan segar, moderen, dan muda. Demikian juga pengalaman seorang teman konsultan brand, ketika membantu sebuah sekolah yang dahulu logonya sangat tradisional hanya berupa buku menjadi lebih moderen bergaya simbolik moderen, riset menunjukkan dampak positif yang memperjelas diferensiasi.

Saat ini yang secara visual menjadi tren sesuai dengan paradigma perubahan dunia dan strategi umum perusahaan adalah bentuk-bentuk tiga dimensi, membulat, transparan, warna candy hijau-biru-merah, atau pun bentukan elastis menyerupai pita, atau tetesan air. Hal ini sesuai dengan tren dunia yang semakin menghargai transparansi, good corporate governance, risk management, horizontal communication, tanpa sekat dan egalitarian. Jadi jika logo Anda sekarang masih bernuansa “masa lalu” sedangkan target market Anda atau strategi Anda termasuk “emerging” maka kinerja bisnis pasti akan lebih maksimal jika Anda mengganti logo yang diikuti kegiatan aktivitasi terkonsep.

Intinya visual ekspresi yang baik dan relavan akan menciptakan “respect” bagi pelanggan dan masyarakat, dan menciptakan “honor” bagi pegawai dan manajemen. Kasus re-branding Pizza Hut juga menjadi bukti bagaimana branding bisa membawa dampak positif kepada “mood” pelanggan Pizza Hut dan antusiasme frontliner dalam melayani pelanggan. Selamat tahun baru, brand baru!

Rabu, 24 Desember 2008

Brand-Based Design

Teman,
Barusan aku habis balik dari Univ.Paramadina,diundang sharing session jurusan DiskomVis (Desain komunikasi visual) untuk masalah branding. Dan kagetnya adalah di akhir session para dosen meminta saya membantu mengajar sebagai dosen luar biasa di jurusan itu.
Rupanya ada gebrakan baru dari DiskomVis Paramadina. Sadar akan perubahan dan tantangan pasar mereka mulai membangun kompetensi baru bagi mahasiswanya yakni bukan sekadar desainer yang tahu bagaimana membuat desain produk yang bagus tapi juga saleable dan sesuai dengan strategi marketing dan branding. Mereka ingin mengubah pandangan dari menjadi desainer yang production oritented (pintar bikin desain indah) " paham how to" menjadi desainer yang tahu strategik "paham why dan what nya".

Presentasi yang saya siapkan tentang research on branding menjadi inspirasinya. Cerita saya tentang beberapa produk yang pernah saya terlibat membangunnya memperkuat alasan untuk berubah. Sudah saatnya DiskomVis Paramadina menemukan new differentiation yang strong di market. Aligning tactical skill di desain dengan strategic marketing & branding knowledge dipercaya akan menjadi energy untuk stand out dan out of the crowd.

Tahun ajaran baru ini saya rencaba diminta mengajar research on brand tiap rabu jam 7 pagi. Semoga amanah baru ini menjadi penyeimbang diantara kehidupan profesional yang telah saya jalani selama ini. Amien...

Senin, 15 Desember 2008

Mau Prospek kok di Closing

Kisah ini benar terjadi, bahkan baru saja saya alami, dan celakanya pertama kali baru kejadian sejak saya menekuni dunia konsultan tahunan...Mau mem-prospek kok malah di closing

"Drama"hidup ini terjadi pertengahan November kemarin. Alkisah seorang temen, seorang call center consultant, mengajak saya ke sebuah yayasan untuk pengembangan orang buta. Katanya, "kamu bisa membantu yayasan ini kasihan sudah 17 tahun berdiri kok ndak maju2 padahal misinya mulia yakni memberdayakan orang buta." Meski hari ini ada setumpuk PR riset dan observasi untuk presentasi ke klien namun hati saya telah berhasil mematikan setan logika. Serentak saya bersemangat, bangkit dan antusias padahal sebelumnya badan terasa sakit sekali digerakkan apalagi membayangkan harus menyetir ke arah jakarta selatan yang super macet.

Kami berdua meluncur penuh semangat, kami memutar JORR sampai Pondok Indah kemudian mengarah ke tujuan. Sepanjang perjalanan saya dan teman berkelakar seperti biasanya, cerita sana sini soal marketing bisnis dan kehidupan pribadi, tidak ada firasat sama sekali kami akan "dikerjain" (baru tahu khan kalau konsultan pun sering dikerjain orang hehehe)

Nah sampai disitu saya diperkenalkan dengan semua staf yang sebagian besar buta. Hati saya langsung mengucap syukur bahwa masih diberi dua pupil yang indah dan fungsional ini. Tapi saya tidak melihat satu aura pun kesedihan apalagi putus asa di dalam bangunan sederhana itu. Bahkan sebaliknya antusiasme dan percaya diri sangat kental, terlihat dari cara mereka menjabat tangan dan mengucap salam kepada saya meskipun mereka tidak tahu persis posisi saya.

Saya pun berkenalan dengan pemimpin dan semua kolega di yayasan tersebut. Seperti biasanya obrolan pun mengalir dari topik personal dan kemudian dilanjutkan dengan topik agak serius seputar bisnis. Setelah teman saya menjelaskan tentang call center panjang lebar sampai akhirnya pertanyaan menjurus ke branding yang tiba-tiba menohok ke saya.

Saya pun menjawab dengan sejelas2jelasnya bahkan seperti memberikan one day training. Tak terasa telah satu jam saya berbicara marketing dan branding bahkan sampai tactical idea pun saya sampaikan. Meskipun saya tidak tahu pasti tapi saya "merasa" kedatangan saya "berguna dan mencerahkan"dari gesture dan karakter suara (thank pak luthfie utk tekniknya)

Salah satu poin yang saya katakan adalah: " call center marketing adalah lahan yang tepat untuk orang2 buta selain publishing atau health therapist karena call center membutuhkan seorang yang berjiwa empati sehingga bisa merasakan respon pelanggan hanya dari voice nya saja. Dan saya yakin teman-teman yang buta memiliki kelebihan di sisi tersebut."

Namun beberapa saat salah seorang audience berdiri dan beranjak keluar. Tanpa sadar tak sampai semenit dia sudah berada di samping saya, katanya: " Pak Anke,Pak Lutfie saya sudah mendengar tips selling dan branding dari bapak sekalian, nah ini saya ingin praktik persistent selling." "O ya maksudnya apa?", tanya saya. "Gini pak, kami punya paket buku dan CD seharga 135.000 kalau bisa bapak bisa berpartisipasi dengan membelinya."

Wah, kontan saja saya kaget begitu juga pak Lutfie. Saya langsung lemes dan merasa tidak berarti sama sekali. Dua jam lebih kami meluangkan waktu dan itupun DIUNDANG bukan kami datang dengan inisiatif sendiri, namun malah di prospek dan langsung ditohok closing. Katanya, "mempraktikkan ajaran kami".

Saya bilang ndak pernah dalam sesi dua jam itu kami mengajarkan hal seperti ini (dalam hati karena takut melukai perasaan mereka). Kami bisa saat itu membayar 135.000 tapi bukan segitu harga kami kalo mo minta sumbangan, diri ini merasa terhina-dina karenanya.

Akhirnya kami pun "cabut" dari yayasan tersebut dan sama-sama belajar bahwa men-judge orang yang "disable" bahwa mereka mempunyai indra keenam dan lebih sensitif dibandingkan orang normal ternyata bisa keliru. Melihat orang cacat "punya kelebihan" sama salahnya dengan melihat orang sempurna "punya kekurangan". Yang benar, kita harus berpandangan netral tidak boleh terjebak melihat atribut fisik. Saya jadi teringat tukang ngemis di perempatan yang saya lalui setiap hari, mereka justru mengekploitasi kecacatan mereka untuk "menjerumuskan"orang normal mengasihani mereka. Ini kebiasaan dan budaya yang SALAH di masyarakat kita, orang lemah selalu ditolong dan didorong untuk selalu merasa LEMAH! Tidak pernah kita benar-benar MEMBERDAYAKAN mereka dan MENGHORMATI mereka seperti insan normal dengan memberi perlakuan yang sama dengan orang normal.

Mungkin pandangan ini salah, jadi nggak perlu Anda mengikuti, cukup saya saja!

Kamis, 11 Desember 2008

SEKOLAHpun SADAR MARKETING

Tahukan Anda industri sekolah nasional plus telah tumbuh lebih dari 100% setahun?
Saat ini terdapat lebih dari 200 sekolah golongan national plus di seluruh Indonesia. Padahal pada saat kran pendidikan mulai dibebaskan untuk asing masuk ke Indonesia pada medio 2000, kategori sekolah national plus hanya diisi tidak lebih dari 10 sekolah, itupun hanya tersebar di Jakarta saja. Angka 200 inipun masih bisa bertambah jika lembaga pra sekolah dimasukkan ke dalamnya. Artinya ketegori “plus” ini semakin ranum di masa depan, tidakkah Anda ingin masuk?


Institusi Pendidikan dan Industri Pendidikan
Jika Anda jujur mau melihat realitas maka Anda akan setuju jika saya menyebut ada dikotomi dalam pendidikan di Indonesia. Satu kutup bernama Institusi pendidikan dan satu kutup bernama industri pendidikan. Kutup pertama dihuni komunitas sekolah nasional milik pemerintah yang murah, generik, dan kaku. Sedangkan kutup kedua dihuni sekolah internasional dan sekolah national plus yang mahal, customized, fleksibel, dan menawarkan nilai lebih. Ibarat obat sekolah nasional milik pemerintah adalah obat generik dan sekolah nasional plus adalah obat bermerek terkenal. Layaknya obat bermerek, industri pendidikan jelas menawarkan manfaat lebih, bukan hanya functional benefit namun juga emotional benefit bahkan spiritual benefit. Tidak hanya menawarkan pengembangan sisi intelektual anak (IQ) layaknya sekolah negeri-pemerintah, sekolah nasional plus juga menumbuhkembangkan kemampuan emotional dan spiritual anak sehingga segala macam bakat dan potensinya keluar menjadi kompetensi yang berdaya saing tinggi.

Jadi kemudian wajar jika sekolah untuk golongan masyarakat menengah ke atas ini mematok uang pendaftaran dan SPP yang lebih mahal. Hasil riset saya ke beberapa sekolah national plus di Jakarta menunjukkan orang tua harus minimal harus mengeluarkan 15 juta setahun untuk biaya pendidikan sekolah nasional plus yang di grade 3, itupun belum termasuk biaya ekstrakurikuler, makan dan transportasi. Sedangkan apabila mereka ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah national plus grade 2 yang lebih tinggi, orang tua harus menyiapkan 30-50 juta rupiah setahun. Namun jika belum puas juga, orang tua bisa memasukkan anaknya ke sekolah nasional plus grade 1 yang berbiaya sekitar Rp. 50-100 juta per tahun. Meski menguras isi kantong, sekolah national plus ternyata sangat diminati, terbukti pertumbuhan per tahunnya di atas 100 persen.

Sekolah Nasional Plus Sudah Menjadi Kebutuhan Masyarakat Perkotaan.
Masa sekarang disebut era informasi karena manusia telah berhasil menciptakan piranti teknologi yang membuat akses informasi menjadi tanpa batas. Dimulai dari ditemukannya personal computer, lalu internet yang bisa menghubungkan antara komputer di seluruh dunia dan membentuk dunia maya. Informasi menjadi hak semua orang yang mudah diakses kapanpun dan dimanapun.

Dengan kondisi demikian harusnya manusia semakin bahagia, namun ternyata yang terjadi sebaliknya manusia justru semakin gelisah. Dulu orang mengatakan kalau saya bisa mendapatkan informasi lengkap maka saya bisa mengambil keputusan lebih baik, namun buktinya sekarang semakin banyak informasi yang masuk justru manusia dibuat kewalahan.

Kejahatan sekarang bukan masuk melompati pagar rumah Anda namun masuk melalui gelombang radio yang tertangkap perangkat televisi dan komputer Anda yang terhubung ke internet. Informasi yang seharusnya hanya boleh dikonsumsi orang dewasa, sekarang merebak menjadi informasi yang bisa dikonsumsi semua orang di segala umur, termasuk anak-anak. Sangat menggelisahkan bukan?

Di sisi lain orang tua semakin hari semakin sibuk dengan urusan pekerjaannya. Mereka bekerja lebih dari 10 jam sehari 5 hari seminggu. Waktu untuk anak dan keluarga menjadi barang langka yang tidak tergantikan. Orang tua seakan menjadi kurang waktu untuk mendidik anak-anaknya secara baik. Tidak seperti di era terdahulu di mana orang tua selalu mengantar tidur anaknya, menungguinya saat mengerjakan tugas sekolah, dan berbagi cerita tentang kehidupan sambil minum teh di sore hari. Orang tua sekarang mana sempat!

Para orang tua sadar dengan keterbatasan ini, mereka tidak bisa memilih bagaikana dua sisi mata uang yang sama-sama berharga—pekerjaan atau anak. Namun masalah ini menjadi terselesaikan manakala sekolah nasional plus lahir di tanah air. Sekolah nasional plus bukan hanya mengambil peran sebagai guru namun juga sebagai orang tua yang membangun karakter anak, mengenalkannya terhadap Tuhannya dan nilai keluhuran bangsanya.

Sekolah nasional plus mengadopsi sistem full day school sehingga orang tua yang bekerja tidak merasa kuatir dengan aktivitas anaknya sepulang sekolah. Saat jam reguler selesai, siswa sekolah nasional plus akan mengikuti kelas tambahan tersebut atau mengerjakan tugas sekolah bersama-sama. Dengan demikian sesampainya di rumah siswa tinggal beristirahat dan sedikit mengulang pelajaran bersama orang tua. Anak senang karena aktivitasnya padat dan tidak membosankan sementara orang tua juga senang karena anak-anak seharian di sekolah belajar, tidak keluyuran ke mall atau pusat perbelanjaan selepas jam sekolah normal. Sekolah nasional plus telah menciptakan solusi atas masalah yang terpendam selama ini.

Memilih Franchise Sekolah
Jika secara kategoti sekolah nasional pasti berkembang sehingga saya prediksi bakal menjadi bisnis yang menarik Anda masuki, pertanyaan selanjutkan faktor apa yang harus menjadi pertimbangan saat kita mengambil hak franchisenya?

Seperti yang telah umum dikenal, bahwa hak franchise bisa Anda dapatkan dari franchisor lokal maupun manca negera, demikian juga di industri sekolah nasional plus. Apabila Anda bermodal besar maka Anda bisa mengambil hak franchise sekolah luar negeri. Seperti yang dilakukan High Scope Indonesia yang mengambil hak franchise dari Singapura. Apabila dana Anda lebih kecil Anda bisa mengambil hak franchise beberapa sekolah nasional plus lokal seperti Sekolah Madania atau sekolah asing yang master franchise telah ada di Indonesia. Beberapa aspek yang harus Anda perhatikan adalah sebagai berikut:

Pertama, diferensiasi. Dalam bisnis apapun, diferensiasi selalu menjadi nyawanya karena ia yang menjadi alasan orang membeli produk tertentu relatif terhadap produk lain. Demikian juga dalam bisnis pendidikan, pastikan franchisor Anda memiliki diferensiasi yang solid baik dari sistem dan pendekatan pendidikan, fasilitas maupun dukungan kualitas sumber daya manusia. Sampai saat ini, sistem dan pendekatan pendidikan masih menjadi faktor penentu seseorang memilih sekolah tertentu. Namun pastikan juga sistem pendidikan yang diadopsinya telah terbukti, bukan masih dalam tahap percobaan.Oleh karena itu, saya menyarankan Anda memilih sekolah nasional plus yang telah berusia lebih dari lima tahun dengan asumsi masa lima tahun sekolah telah berhasil melampui masa kritisnya.

Semakin unik sistem pendidikan yang ditawarkan berarti akan semakin terbuka peluang sukses karena persaingan menjadi tidak relevan. Sebaliknya semakin generik sistem pendidikan yang ditawarkan akan semakin banyak pesaing yang harus dihadapi.

Kedua, brand image Jelas bahwa ketika Anda membeli hak franchise berarti Anda membeli brand. Pastikan bahwa brand franchisor bukan hanya positif namun juga sesuai dengan karakter segmen pasar di lokasi Anda mendirikan sekolah. Sekolah Bina Nusantara misalnya dipersepsikan sebagai sekolah yang mengedepankan IT untuk warga keturunan yang ingin berbisnis. Sebaliknya Sekolah Madania dipersepsikan sebagai sekolah pencetak pemimpin Indonesia masa depan yang tidak berorientasi pada etnis, ras, golongan atau agama. Terakhir Sekolah Pelita Harapan dipersepsikan sebagai sekolah plus untuk orang kristen yang fanatik.

Kalau kebetulan di lingkungan Anda banyak warga keturunan maka Sekolah Bina Nusantara barangkali paling cocok. Sebaliknya jika di lingkungan Anda mempunyai etnis beragam atau seimbang antara keturunan dan pribumi dan mempunyai pandangan moderat-universal maka Sekolah Madania yang paling cocok., Sebaliknay apabila di lingkungan Anda banyak terdapat penganut Kristen fanatik, barangkali Sekolah Pelita Harapan yang lebih tepat.
Selain itu Anda juga harus mempertimbangkan akankah brand image tersebut akan bertahan lama ataukah akan cepat usang dan tidak bernilai jual karena tidak sesuai dengan tuntutan jaman. Misalnya, tren globalisasi telah menuntut manusia semakin memahami perbedaan dan bersikap toleran. Apakah perubahan ini akan menyebabkan orang semakin menghindari sekolah yang bercitra fanatik terhadap agama tertentu ataukah sebaliknya justru membutuhkan?

Ketiga, uang muka dan SPP. Sebagaimana saya katakan di atas dari segi uang muka dan SPP, sekolah nasional plus dibagi menjadi tiga grade yakni grade 1, grade 2 dan grade 3. Semakin tinggi uang muka dan SPP biasanya semakin bergengsi sekolahnya dengan tawaran manfaat yang lebih lengkap. Namun ada beberapa sekolah yang kualitasnya sudah mencapai grade tertinggi namun dari segi uang muka dan SPP masih terjangkau misalnya Sekolah Madania. Sekolah Madania meskipun menawarkan ijazah nasional dan GAC (Global assessment certificate) namun biayanya per tahunnya masih dibawah 15 juta rupiah. Namun jika Anda menyasar segmen yang lebih rendah maka Anda bisa memilih sekolah seperti Al azhar Al ihzar atau Lazuardi.

Ketiga, harga angkat hak. Kalau sudah uniknya dapat dan citra mereknya sesuai dan diprediksi mampu bertahan menjawab tantangan jaman, maka langkah terakhirnya adalah melihat harganya. Harga yang dimaksud bukan hanya franchise fee namun juga segala persyaratan yang diwajibkan franchisor dimiliki oleh franchise seperti luas lahan, lokasi lahan, infrastruktur bangunan, bangku-bangku, kualifikasi guru dan lain sebagainya. Ada baiknya pastikan juga apakah franchisor memberikan asistensi guru pada masa awal berdirinya sekolah. Jika tidak,lebih baik mencari franchisor sekolah lain yang memberikan asistensi karena berarti sekolah tersebut bukan hanya berorientasi mencari tambahan uang dari franchise fee namun juga berkomitmen menjaga kualitasnya dalam jangka panjang.

Rabu, 18 Juni 2008

Melejitkan Produk Bisa Menjadi Istimewa: Chicken Story Case

Jumat, 13 Juni 2008, jam 17.00-18.00, saya melakukan trial siaran acara radio saya di Dfm 103,4 berjudul Bedah Kuliner Indonesia. Semoga saya acara ini disetujui dan jadi mengudara rutin seminggu sekali.
Hadir sebagai pembicara Pak Harry Sanusi, Founder&CEO Kino Group, salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Tahu produknya Kino khan? Paling terkenal adalah Ovale pembersih wajah.
Saya cukup surprise seorang Harry Sanusi berkenan hadir. Dan saya baru tahu kalau Chicken Story, resto ayam panggang, adalah milik Grup Kino. Saya melihat Chicken Story ini inovatif--mencoba melejitkan makanan tradisional indonesia yakni ayam panggang menjadi menu kelas restoran yang disajikan dengan konsep fastfood modern ala Mc Donald.
Gerai hicken Story pertama berdiri pada tanggal 18 September 2005 di Plaza Semanggi dengan desain interior yang khas menampilkan visible kitchen. Orang bisa melihat proses memasak ayam panggangnya yang higienis. Sekarang Grup Kini telah membuka 9 outlet Chicken Story di Jakarta. Sebuah ekspansi yang terhitung cepat hanya dalam 3 tahun.

Apa yang di share Pak Harry, saya akan menuliskan khusus untuk Anda setelah artikel ini.

Sukses
Anke

Rabu, 27 Februari 2008

Sekali Lagi Tentang Positioning?



Milestone dari konsep marketing adalah pemahaman Segmentasi, penentuan Targeting, dan perumusan Positioning. Perumusan positioning adalah end-result dari kesimpulan kita dalam memandang pasar, dan memilih target yang potensial (* segmentasi dan targeting akan dibahas selanjutnya) sekaligus sesuai dengan sumber daya yang kita miliki. Contoh di atas adalah salah satu end-result dari pemahaman seorang marketer tentang "pasar mobil" dengan membagi menurut dua kategori yakni harga mobil (price) dan konsumsi BBM. Anda pun bisa membuat positioning map berdasarkan kreatifitas Anda dalam melihat pasar misalnya dengan membagi brand berdasarkan harga (price) dan teknologi; harga dan desain; desain dan durability, dan lain sebagainya. Dari positioning map itu Anda bisa melihat dimana posisi brand Anda sekarang dan kemana Anda ingin mengarahkan positioning brand Anda di masa depan.

Secara umum Anda ada dua hal yang harus diperhatikan ketika kita menyusun positioning baru atau merubah positioning yang sudah ada, yakni: manfaat utama yang akan kita tawarkan (apakah benefit leadership, value leadership, ataukah cost leadership) dan point perbandingan yang akan kita pakai (apakah comparative-membandingkan dengan pesaing dalam hal kesamaan ataukah perbedaannya, ataukah noncomparative-hanya berdasarkan kebutuhan dan ketegori).

Contoh jika Anda sekarang brand managernya Chery Tiggo kemungkinan positioning adalah cost leadership (SUV paling murah di kelasnya-hanya 140 jutaan) atau value leadership (murah sekaligus fiturnya lengkap: mesin 2.0 EMI, ABS-EBD-BA, flexible seating configuration), Kalau benefit leadership tidak mungkin karena secara reliability belum teruji sebagai brand baru.

Kemudian ketika menyusun kalimat positioning, brand manager bisa memilih apakah akan menggunakan kalimat bernada comparative (paling dekat adalah Daihatsu Terios) ataukah non comparative, misalnya dengan mengambil angle kalimat dari kebutuhan SUV murah yang menunjang kebutuhan masyarakat akan kendaraan anti banjir.

Any comment?

Jumat, 22 Februari 2008

Nasib Pensiunan Beli Franchise?


Manusia bisa bertahan sebagai mamalia yang terkuat bukan karena otaknya tapi karena kekuatan emosinya..

Kekuatan ini yang menyebabkan kita bisa mencari jalan keluar atas setiap masalah yang kita hadapi selama ini: the power to survive! Nah dalam kontek bisnis franchise, saya melihat banyak franchisee yang gagal lebih banyak karena ketidaksiapan mental menjadi pengusaha. Apalagi para franchisee yang seumur-umur tidak pernah bersentuhan dengan "ilmu dagang" seperti para pensiunan pegawai misalnya. Menjelang masa terima duit pensiun yang puluhan juta, mulailah mereka mencari alternatif investasi yang paling menguntungkan. Melihat suku bunga deposito yang semakin rendah,membuat mereka berpikir: " Ehmm buka usaha kali ya, Pa/Ma..seperti Pak X itu lho ..kelihatannya gampang cari duit..ya". "Udah kita cari aja bisnis yang setipe yang di-franchise-kan."

Setelah melihat-lihat (kebanyakan pake insting karena nggak punya pengetahuan bisnis) kemudian mereka memutuskan salah satu franchisor yang kelihatan paling menyakinkan (murah franchise fee-nya dan adil bagi hasilnya). Singkat cerita toko franchise mereka berdiri setelah set-up eksterior, interior selesai dan semua sistem dan bahan baku telah dikirim oleh franchisor.

Dasar mental pegawai, mereka berasumsi bisnis ini akan berjalan menjadi mesin uang seperti menaruh uang di deposito. Pada bulan pertama mereka masih sering pergi ke toko, berlagak sok tahu dan meminta ini-itu dibenahin oleh pegawai. Bulan berikutnya mereka mulai bosan hanya duduk di pojok toko sambil mengantuk dan kadang mengomelin anak buah spy tidak dikira pembantu. Bulan kedua datang hanya sabtu minggu. Bulan ketiga hanya datang minggu, dan bulan keempat hanya dua minggu sekali dan akhirnya hanya seminggu sekali dengan alasan bermacam-macam.

Apa jadinya? toko yang diharapkan menjadi tumpuan pemasukan masa pensiun itu pada bulan keenamnya pun mati suri, dan pada bulan ketujuh terpaksa ditutup karena pendapatannya tidak bisa mengcover sekadar bayar sewa gedung dan listrik. Lalu bulan berikutnya bapak/ibu pensiunan ini memasang iklan di PosKota dengan judul "DIJUAL peralatan franchise murah!". Sungguh mengenaskan bukan?

Nah kalau tidak ingin menjadi "Pensiunan Penasaran" ada beberapa tips agar Anda terhindar dari "Jebakan Franchise" di saat pensiun:

1. Kenali diri Anda apakah Anda mempunyai jiwa entrepreneurship? Pernah tidak berdagang, memimpin
orang, risk taker, creative dan problem solver?
2. Kenali motivasi Anda terlebih dahulu? Jika motivasi Anda ingin mencari uang tambahan pensiun maka urungkan niat Anda masuk ke bisnis ini, lebih baik Anda mulai mencari prospektus reksadana yang memberi gain paling besar dan risiko terkontrol?
3. Kalau masih penasaran juga bolehlah Anda membeli franchise yang murah di kisaran harga 10 jutaan seperti jualan burger, sebelum Anda memutuskan membeli hak franchise yang ratusan juta. Bisnis ini sebagai pembuktian seberapa kuat Anda menjadi pengusaha?
4. Paling aman adalah jika Anda mempunyai teman dekat yang sudah berkecimpung dalam bisnis yang serupa, mintalah dia bergabung, Anda memodalinya, lalu profit dibagi adil?
5. Belilah franchise yang paling mendekati bidang kerja Anda sebelumnya, misal kalau Anda karyawan Depdikbud maka belilah franchaise pendidikan.
6. Kenali proses bisnisnya dari A-X karena seorang pengusaha yang sukses pastilah pengusaha yang mengetahui detail operasi bisnisnya sehingga mereka tidak mudah diperdaya orang lain?
7. Terakhir don't put all the egg in one basket!! jalan lupa menyisihkan paling sedikit setengah dari uang pensiun Anda di instrumen keuangan yang aman sebagai buffer kebutuhan hidup Anda selama pensiun.


Lakukan tips di atas dan sampai ketemu di jalan orang-orang pensiun kaya-raya !!! hehehe



(even tough it is written in blog, doesn't mean you can freely to copy without notice, Pls respect people's masterpiece thinking!)

Senin, 18 Februari 2008

IMC for Publishing House

Salesman yang jago adalah yang bisa menjual es di kutup utara !

Ungkapan itu menyindir orang pemasaran yang selalu mengaku bisa menciptakan kebutuhan. Dalam kontek dunia penerbitan saya melihat semangat inilah yang harus membara di dada para penerbit. Tidak ada sebuah buku yang bisa sukses jika tidak dikomunikasilkan dengan baik kepada target market meskipun itu "buku dewa" sekalipun. Sebabnya tidak lain karena himpitan yang semakin keras pada persaingan (konon judul per buku yang masuk Gramedia saja per bulannya sudah lebih dari 100 judul), pelanggan yang semakin pintar sekaligus bingung ( pintar dalam menghitung harga yang wajar dari sebuah buku, namun bingung dengan kualitas isi buku). Sedangkan di sisi lain penerbit juga dihadapkan pada beban biaya yang semakin membengkak dan kebijakan pemerintah yang tidak pro-buku sama sekali (kertas mahal pajak mahal)

Alhasil penerbit bagaikan terperangkap dalam labirin, mau tidak nerbitin buku salah, nerbitin juga nggak yakin laku karena nggak ada biaya pemasaran. Biaya pemasaran buku saya prediksi idealnya di kisaran 5-10%, bahkan untuk buku yang diprediksi bakal laku keras seorang teman bisa mengeluarkan di atas 15%. Misalnya ongkos cetak 30 juta maka biaya pemasaran harusnya minimal 3 juta, yang akan habis untuk bedah buku dan acara radio. Lalu bagaimana dengan iklan di media cetak?

Jawabnya mustahil penerbit akan mau jika tidak ada sumbangan dari penulis. Oleh karenanya, saya biasanya telah mengalokasikan minimal 5 juta untuk iklan, dan 10-20 buku gratis untuk para peresensi, ditambah uang terima kasih sekitar 500 ribu untuk tiap peresensi supaya keluar di media massa esok paginya.

Kalau buku Anda pengen laris di pasaran maka Anda pun sebagai penulis harus "mawa bea" alias keluar duit, yah itung-itung investasi jangka panjang. Jika Anda yakin bisa mendapatkan lebih dari 10 juta plus popularitas maka tidak salahnya menguatkan diri untuk mengikhlaskan 10 juta "lari" ke pihak lain. Kalau ternyata gagal ya sabarlah karena bukankah justru keberhasilan menjadi indah kalau Anda sudah pernah tertimpa kegagalan? Terbitkan buku lagi kalau buku kemarin gagal, gagal lagi terbitkan lagi..kalau gagalnya 10 kali barulah Anda berpikir kembali , mungkin Anda memang tidak berbakat menulis dan mulai mengontak HP saya hehehe...

Kamis, 22 November 2007

KAPAN KE JOGJA LAGI? Jogja's New Marketing Campaign



Rabu, 21 November 2007, saya ngangkring (istilah Jogja untuk nongkrong) bareng Mas Arief, CEO Aseli Dagadu Jogja, di Excelco Malioboro Mall. Sejak Selasa saya memang di Jogja, ada acara wisuda adik saya di UGM. Setelah menanyakan kabar masing-masing, akhirnya Mas Arief membuka inti pembicaraan sore itu tentang visi kami untuk menjadikan Jogja sebagai kota berbasis ekonomi kreatif (creative economy). Saya melihat dari sekian banyak kota di Indonesia, Jogja-lah kota yang paling tepat untuk dijadikan basis creative economy yang dicanangkan Pak SBY, bukan Jakarta. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, terutama jika saya mem-benchmark Jogja dengan daerah paling kreatif Silicon Valley.

Pertama, ketersediaan SDM. Jika berbicara mengenai creative economy maka unsur paling penting adalah “soft aspect” yakni kualitas SDM. Jogja sejak lama sudah dikenal sebagai kota pendidikan, kota seni, dan kota budaya dengan universitas sebagai mesin penghasil cendekiawan yang tidak pernah putus. Silicon Valley bisa berkembang pun karena dukungan universitas di seputar San Fransisco seperti Stanford University dan University of California at Barkeley.

Kedua, tersedianya “cool green house” yang mendukung tumbuhnya kreatifitas. Mengembangkan kreatifitas itu seperti menumbuhkan sebiji tanaman, jika ingin cepat besar lingkungan harus dikondisikan sehingga tumbuhan yang hidup di rumah kaca (green house) jauh lebih cepat tumbuh besar ketimbang yang ada di luar rumah kaca. Demikian juga kreativitas akan tumbuh cepat jika ada lingkungan yang mendukung tumbuhnya ide-ide baru. Lingkungan kota Jogja yang berhawa sejuk, bebas polusi, dengan budaya masyarakatnya yang komunal namun berpikiran terbuka, menjadikan kota ini sangat “cool” untuk mendorong munculnya ide baru. Pemusik Katon Bagaskara konon menciptakan hampir semua lagu Kla Project di daerah Wisata Kaliurang. Jogja juga punya ribuan tempat nongkrong dari mulai kedai Angkringan Kopi Joss di samping Stasiun Tugu sampai coffee shop modern sekelas Starbucks. Mirip suasana Silicon Valley yang penuh dengan taman dan tempat ngopi yang asik.

Ketiga, jiwa entrepreneurship. Mempunyai ide segudang tidak cukup jika tidak dilanjutkan dengan proses komersialisasi ide (creativity meets commercialization). Di Silicon Valley katanya ada dua golongan masyarakat: pertama, golongan pemikir kreatif dan kedua, golongan pemodal. Kedua golongan ini saling mendukung dan membangun network dan saling membutuhkan. Ketika ada sebuah ide kreatif baru yang visioner sekaligus komersial, maka golongan pemodal ini dengan optimis akan mendukung pendanaan proyek kreatif itu menjadi sebuah produk nyata. Jangan dibayangkan ada proses yang rumit seperti Anda mengajukan kredit ke bank, para pemodal ini akan rela memberikan milyaran dananya begitu ada satu titik peluang komersial yang terkandung dalam sebuah ide. SteveJobs tidak akan bisa mendirikan Apple tanpa bantuan partner investornya Steve Wosziak.

Keputusan cenderung dibuat dengan sensing bukan analysis karena keberhasilan inovasi pada fase awal biasanya tidak mudah untuk dikalkulasikan dalam sebuah angka-angka parameter feasibility studies. Di sinilah pentingnya jiwa entrepreneurship untuk bisa mendorong munculnya sense of opportunity ketika melihat sebuah ide baru yang relatif masih “mentah”. Jiwa entrepreneurship kota Gudeg bisa Anda rasakan berdenyut di setiap pojok kota. Saya sendiri yang sering balik kampung, selalu terkejut dengan berdirinya usaha-usaha baru yang bertebaran di sepanjang jalan protokol sampai jalan pedesaan yang membelah persawahan.

Hal ini karena menjadi orang gajian di Jogja sungguh tidak meng-enakkan karena UMR di kota Gudeg ini relatif kecil sekali, susah mencari gaji Rp 1 juta untuk seorang lulusan sarjana. Perusahaan kelas nasional dan multinasional juga tidak genap ada sepuluh jari. Oleh karena itu, para alumni S1/S2 yang tidak mau pergi ke Jakarta tidak ada pilihan lain selain menciptakan bisnis-bisnis baru yang kreatif, seperti “angkringan” hot-spot, thematic restaurant/cafĂ©, advertising agency, publisher, distro, atau entertainment.

Keempat, nilai sosial yang mendukung. Sebuah proses kreatif tidak akan jalan pada sebuah masyarakat yang memiliki sikap menyalahkan dan menghukum. Sebaliknya sebuah proses kreatif akan tumbuh pada masyarakat yang pemaaf dan pemurah. Konon di Silicon Valley ada budaya untuk menghargai kegagalan. Orang yang gagal mencoba lebih dihargai daripada orang yang cerdas namun miskin keberanian. Kota Jogja sebagai pusat budaya Jawa mempunyai budaya “forget and forgiveness” (lupa dan memaafkan) yang kental. Kota ini juga relatif belum tercemar dengan budaya hedonis yang mendewakan materi. Mungkin Anda tidak percaya karena Anda belum masuk ke area komunal Jogja dan hanya melihat simbol-simbol hedonisme modern yang tercermin di billboard, spanduk, dan jumlah franchise yang masuk ke kota ini. Sehingga sangat mendukung untuk menculnya ide kreatif karena tidak ada halangan mental (mental blocking) yang membebani individu.

Kelima, kualitas hidup yang lebih baik. Stres merupakan pembunuh kreativitas nomer wahid. Kita yang tinggal di Jakarta pasti pernah merasakan tidak bergairah seharian di kantor karena waktu berangkat terkena macet berjam-jam, kecopetan di angkot, atau mobil kita di serempet sepeda motor, diumpatin orang di jalan, dan lain sebaginya. Akibatnya mood bekerja kita hancur, dan lelah mental sehingga jangankan berpikir kreatif, menjalankan tugas rutin yang tanpa berfikir saja kita malas mengerjakannya. Kehidupan warga Jogja nyaris tidak terganggu dengan faktor eksternal yang disebabkan masalah perkotaan seperti kemacetan, kejahatan, banjir, dan lingkungan yang kumuh sehingga tidak mengherankan jika Jogja menjadi kota yang memiliki skor harapan hidup tertinggi se-Indonesia.

Berdasarkan lima parameter di atas, saya yakin Jogja merupakan salah satu kota yang sangat potensial menjadi basis creative economy Indonesia. Untuk mendorong visi terebut mas Arief dengan jiwa sosialnya telah memulainya dengan kampanye bertajuk “KAPAN KE JOGJA LAGI?” (KKJL) untuk mendorong geliat TTI (Tourist, Trade, Investment) masuk ke Jogja khususnya yang berbasis ekonomi kreatif. KAPAN KE JOGJA LAGI???